Selasa, 27 November 2012

CATATAN DI PAGI BUTA (PART 1)


01.35 a.m
Dear my amazing friends ;)))
Entah apa yang membuat gue menorehkan tinta istimewa tentang kalian di insomnia gue kali ini. Setelah beberapa menit terdiam, akhirnya gue mendapatkan jawabannya. Mau tau? Yap, karena gue terlanjur sayang sama kalian, my amazing friends. *Saranghaeyo chingudeul* mantra itu berhasil membuka sebuah laci dalam otak gue yang isinya memori-memori tentang kalian. Memori itu tersimpan sangat rapih dalam laci teristimewa otak gue, gak bakal gue biarin seekor laba-laba pun akan membuat sarang di dalamnya, gak akan gue biarin debu-debu itu memudarkan ingatan gue tentang kita, gak akan gue biarkan setetes kekecewaan akan menghapus kenangan kita, teman. Karena apa? Kalian adalah teman tanpa tanda jasa.
Teman, bahkan hari pertama kita bertemu pun masih terekam jelas di kepala gue, hari itu adalah Pra MOS. Kalian sudah membentuk lingkaran saat gue datang, ah bahkan di hari pertama pun gue udah telat. Beruntunglah saat itu kakak panitia baik. Selamatlah gue. Alhamdulillah (saat itu gue deg-deg-an abis). Jujur, begitu melihat kalian, mmmhh lebih tepatnya kalian yang se-SMP bareng gue, satu kalimat yang langsung keluar dari mulut gue “MAMPUS!! KENAPA HARUS MEREKA!?”. Belum apa-apa gue udah minder. Waktu itu gue sadar kita beda, kalian dari tampang pun gak diragukan lagi kepintarannya. Sedangkan gue? Ya, gue pintar mempengaruhi orang (golongan darah B). Satu lagi yang ngebuat gue dawn, muka kalian gak bersahabat banget. Memberi kesan penguasa, dominan, dan jagoan. Kenyataan. Memang. Pedih. Jenderal. But that’s the fact in ma eyes :D
Hari Pra MOS itu gue gak bawa alat tulis, entah apa yang ada dalam tas gue saat itu. Mood kembali rusak. Gue lirik kanan kiri mencari siapa gerangankah yang bisa menolong gue. Akhirnya setelah mengumpulkan keberanian gue bilang ke cewek di sebelah gue. “Bisa minta kertasnya selembar gak?” dia mengengguk kemudian merobek pertengahan bukunya. Setelah itu gue kembali berkata “Punya dua pulpen?” sumpah saat itu gue ilfil banget sama diri gue sendiri. Dia merogoh tasnya lalu menyodorkan sebuah pulpen ke gue. Pulangnya gue kenalan deh sama dia yang baik hati itu. Kita juga tuker-tukeran nomor handpone buat konsultasi perlengkapan MOS besok harinya. Namanya Ira, itu kalo gue yang nulis tapi kalo dia yang nulis namanya jadi seperti ini ‘Iyrha’. Sori, gue menganut system bahasa Arab, beda penulisan beda arti. Apa? Nomor HPnya? Maaf teman, gue gak hapal. Dan jadilah teman pertama gue adalah Iyrha.
Sayangnya gue dan Iyrha gak cepet akrab, jadi hari-hari MOS selanjutnya gue sering ngekor tiga orang yaitu, Ulfah, Jani, dan Ifha. Kenapa mereka? Karena gue cuma berani ngomong sama mereka. Kalo gue sampe kehilangan jejak mereka, gue bakalan panik. Gue takut mati gaya. Gue hanya bisa ketawa kalo lagi bareng mereka.  Kenapa waktu itu gue gak dipertemukan sama Tini dan Menni ya? Padahal kita sama-sama ada dibarisan belakang. Takdir berkata lain, teman. Fina, ‘hanya dia’ yang gue liat waktu itu, karena dia ada dibarisan terdepan dan dia adalah bulan-bulanan keisengan senior. Tapi, kita gak saling bicara,tampangnya jutek, sengak, belagu, jadi dulu gue gak pernah kepikirin bisa akrab sama dia. Lagi-lagi takdir berkata lain, teman. Ah takdir hebat, dia gak pernah salah. Siapa dulu dong yang buat? Allah SWT, Yang Maha Benar dan Yang Maha Mengerti, Maha dari segala Maha. I love you My Allah, You believe me to make a beautiful friendship with them, my amazing friends ;)))
Okeh Catatan Di Pagi Buta Part 1 sampai disini dulu aja, posisi nulis udah gak enak. Sepupu yang udah tidur mulai nendang-nendang laptop. Kalian emang gue sayang tapi laptop ini lebih gue sayang. MUAHAHAHAHAHAHAHA. Just kidding, teman. Hoahm…. My eyes ask me to take a rest for them. So, see you in my next insomnia X))

Tidak ada komentar:

Posting Komentar