01.35 a.m
Dear my amazing friends ;)))
Entah apa yang membuat gue menorehkan tinta istimewa tentang
kalian di insomnia gue kali ini. Setelah beberapa menit terdiam, akhirnya gue
mendapatkan jawabannya. Mau tau? Yap, karena gue terlanjur sayang sama kalian,
my amazing friends. *Saranghaeyo chingudeul* mantra itu berhasil membuka sebuah
laci dalam otak gue yang isinya memori-memori tentang kalian. Memori itu
tersimpan sangat rapih dalam laci teristimewa otak gue, gak bakal gue biarin
seekor laba-laba pun akan membuat sarang di dalamnya, gak akan gue biarin
debu-debu itu memudarkan ingatan gue tentang kita, gak akan gue biarkan setetes
kekecewaan akan menghapus kenangan kita, teman. Karena apa? Kalian adalah teman
tanpa tanda jasa.
Teman, bahkan hari pertama kita bertemu pun masih terekam
jelas di kepala gue, hari itu adalah Pra MOS. Kalian sudah membentuk lingkaran
saat gue datang, ah bahkan di hari pertama pun gue udah telat. Beruntunglah
saat itu kakak panitia baik. Selamatlah gue. Alhamdulillah (saat itu gue
deg-deg-an abis). Jujur, begitu melihat kalian, mmmhh lebih tepatnya kalian
yang se-SMP bareng gue, satu kalimat yang langsung keluar dari mulut gue
“MAMPUS!! KENAPA HARUS MEREKA!?”. Belum apa-apa gue udah minder. Waktu itu gue
sadar kita beda, kalian dari tampang pun gak diragukan lagi kepintarannya.
Sedangkan gue? Ya, gue pintar mempengaruhi orang (golongan darah B). Satu lagi
yang ngebuat gue dawn, muka kalian gak bersahabat banget. Memberi kesan penguasa,
dominan, dan jagoan. Kenyataan. Memang. Pedih. Jenderal. But that’s the fact in
ma eyes :D
Hari Pra MOS itu gue gak bawa alat tulis, entah apa yang ada
dalam tas gue saat itu. Mood kembali rusak. Gue lirik kanan kiri mencari siapa
gerangankah yang bisa menolong gue. Akhirnya setelah mengumpulkan keberanian
gue bilang ke cewek di sebelah gue. “Bisa minta kertasnya selembar gak?” dia
mengengguk kemudian merobek pertengahan bukunya. Setelah itu gue kembali
berkata “Punya dua pulpen?” sumpah saat itu gue ilfil banget sama diri gue
sendiri. Dia merogoh tasnya lalu menyodorkan sebuah pulpen ke gue. Pulangnya
gue kenalan deh sama dia yang baik hati itu. Kita juga tuker-tukeran nomor
handpone buat konsultasi perlengkapan MOS besok harinya. Namanya Ira, itu kalo
gue yang nulis tapi kalo dia yang nulis namanya jadi seperti ini ‘Iyrha’. Sori,
gue menganut system bahasa Arab, beda penulisan beda arti. Apa? Nomor HPnya?
Maaf teman, gue gak hapal. Dan jadilah teman pertama gue adalah Iyrha.
Sayangnya gue dan Iyrha gak cepet akrab, jadi hari-hari MOS
selanjutnya gue sering ngekor tiga orang yaitu, Ulfah, Jani, dan Ifha. Kenapa
mereka? Karena gue cuma berani ngomong sama mereka. Kalo gue sampe kehilangan
jejak mereka, gue bakalan panik. Gue takut mati gaya. Gue hanya bisa ketawa
kalo lagi bareng mereka. Kenapa waktu
itu gue gak dipertemukan sama Tini dan Menni ya? Padahal kita sama-sama ada
dibarisan belakang. Takdir berkata lain, teman. Fina, ‘hanya dia’ yang gue liat
waktu itu, karena dia ada dibarisan terdepan dan dia adalah bulan-bulanan keisengan senior. Tapi, kita gak saling
bicara,tampangnya jutek, sengak, belagu, jadi dulu gue gak pernah kepikirin
bisa akrab sama dia. Lagi-lagi takdir berkata lain, teman. Ah takdir hebat, dia
gak pernah salah. Siapa dulu dong yang buat? Allah SWT, Yang Maha Benar dan
Yang Maha Mengerti, Maha dari segala Maha. I love you My Allah, You believe me
to make a beautiful friendship with them, my amazing friends ;)))
Okeh Catatan Di Pagi Buta Part 1 sampai disini dulu aja,
posisi nulis udah gak enak. Sepupu yang udah tidur mulai nendang-nendang
laptop. Kalian emang gue sayang tapi laptop ini lebih gue sayang.
MUAHAHAHAHAHAHAHA. Just kidding, teman. Hoahm…. My eyes ask me to take a rest
for them. So, see you in my next insomnia X))