Selasa, 15 Mei 2012

Me and Around me...

Hey... hey... hey... readers pake sabuk pengaman dulu yah sebelum baca cuap-cuapan gue di postingan kali ini. Tahan diri kalian buat ngelemparin gue pake swallow atau benda apapun yang mudah kalian jangkau.
Sebenernya ini bukan momen yang tepat buat nulis entri baru karena besok gue dan temen-temen kelas akan bertempur menaklukkan soal biologi Bu Tikce, tapiiii si kecebong amiss (baca: adek gue yang gak kelihatan kayak adek gue) udah nyulik gue dari rumah buat ke kampus ibu nonton pagelaran tari ples ngerjain tugas dia *Wi-Fi di rumah lagi galau, makanya sekarang gue ada di depan kompi kantornya si ibu, di samping kecebong amiss yang lagia autis dengerin lagu Kesha-Crazy...
Readers: Gak penting, Jeh
Dije: Harus ada intronya dulu dong :P
Oke, kali ini gue mo cerita tentang gue dan sekeliling gue. Mau denger yang mana dulu nih? sekeliling rumah? rumah ibu? rumah ayah? sekolah? kampung halaman?* readers melotot tajam kearah entri gue.
Me and Around me.... tunggu gue pengen merem dulu, nge-refresh ingatan gue tentang orang-orang disekeliling gue.
Blog, Keyboard, udara, dan angin: Lu merem apa ngorok, Jeh?
Gue: merem kok. sabar napa? kan gue butuh konsentrasi.
Oke (lagi), detik ini gue bersyukur bisa kenal dengan orang-orang disekeliling gue sekarang, sedikit banyak mereka telah mengajarkan gue arti kebersamaan, arti sosial, dan arti kepedulian. Thank you so much. Tapi maaf beribu-ribu maaf kalo gue belum pernah ngasih sesuatu positif buat kalian, gue masih belajar jadi dewasa, nemuin jati diri sendiri biar gaka ada orang yang bisa mengontrol gue.
Ini disekeliling rumah ibu:
Gue punya banyak kenangan dengan lingkungan rumah ibu, dari kecil sampe sekarang gue masih tetap setia disana. Berubah. Yah, selama kurang lebih 16 tahun banyak perubahan yang terjadi disana, banyak temen kecil gue yang udah pindah tapi masih menyisakan kenangan lucu dan manis dimasa kecil, lapangan tempat kita biasa main lompat karet, dende unyil, asing, bulu tangkis, ge'bo, dll (maaf buat readers yang bule kalian gak ngerti jenis permainan gue, karena permainan itu belum menginternasional) udah dibangun rumah. Bisa dibilang masa kecil gue sangat berwarna, gue punya banyak temen sebaya soalnya. Ngomong-ngomong soal temen, gue jadi inget sama temen-temen cowok waktu kecil, sekarang kita udah gak akrab lagi, kalo ketemu paling cuma senyum sekali doang. Mungkin, kita udah kurang saling mengenal lagi, masing-masing mulai keluar dari dunia kecilnya dan bertemu segala jenis macam orang di luar sana. Gue rindu saat-saat main kelereng, ngebuat bola dari pasir yang dicampur pake air terus dikeringin sehari semalam besoknya kita adu punya siapa yang paling kuat. Apa? kurang kerjaan? iya juga sih, tapi buat anak kecil yang hanya mencari cara tertawa itu sah-sah aja :)
Perubahan memang penting juga terjadi dalam diri kita, tapi janagn berubah seratus persen, kasihan lingkungan kita juga. Mereka tidak bisa mengenali kita dan tentu kita sendriri tidak bisa mengenal diri sendiri.
END... cuap-cuapan tentang disekeliling rumah ibu end and enaugh. Satu quote penutup "Hidup tak selalunya indah tapi yang indah itu tetap hidup dalam kenangan."
Ini di sekolah (SMA):
Tarik napas... tahan emosi...
okeh, bismillah, semoga keyboardnya gak gue banting saking mengkhayati lingkungan gue di sekolah. NEWTON. apakah itu benar ada? yah benar ada, tapi itu belum lama ini gue rasain keberadaannya, tapi itu juga udah syukur dari pada situasinya masih sama seperti kelas X. Mau nulis apa lagi ya? pengen muji NEWTON dulu ah... NEWTON itu sebetulnya kompak abis, tapi hanya soal nilai. Gak pelit, lagi lagi soal nilai. Kemana-mana selalu sama-sama, tapi kelompok-kelompokan. Solid,hanya keliatan dari luarnya doang. Entah dimana letak kesalahnnya hingga keadaannya seperti ini. Personalia mungkin. Kasihan kasihan... NEWTON gak assiiikk :P
Enough untuk NEWTON. Quote penutup: kebersamaan itu perlu untuk menjaga hubungan timbal balik.
Ini di sekeliling rumah Ayah:
Gak asik. Ya, gue bilang gak asik karena gue ngerasa asing ada disana. Gue gak punya teman, karena baru dua tahun terakhir ini gue mau muncul disana. Jangan ditanya kenapa, karena gue sendiri masih bingung menjawabnya. Disana asri, bersih karena selalu ada kerja bakti. Mmmh, apa lagi yah? gue rasa udah cukup.
Ini di kampung halaman gue:
Keren. Asik. Dingin. Asoy deh pokoknya, gue gak ada bosen-bosennya dengan kampung gue. Disana kita merasa sangt dekat dengan alam, bestfriend gitu. Gue juga puas makan buah kalo di kampung. Pngen makan jambu biji? manjat pohon samping rumah aja. Pengen makan nanas? ke kebon belakang rumah aja. Wah seru deh pokoknya. Orang-orang disana juga ramah banget, sakingramahnya nih ya, kita papasan sama orang terus kita senyum, eh kita di ajak main ke rumahnya :D
Gue bangga bisa jadi bagian dari MALINO, South Sulawesi. I LOVE MALINO ;)

Ceritanya diudahin dulu, si kecebong amis udah pengen pulang. Sekarang udah jam satu pagi juga *nguap Wassalam :D

Welcome To My Live


Do you ever feel like breaking down?
Do you ever feel out of place?
Like somehow you just don’t belong
And no one understands you
Do you ever wanna run away?
Do you lock yourself in your room?
With the radio on turned up so loud
That no one hears you screaming
No you don’t know what it’s like
When nothing feels all right
You don’t know what it’s like
To be like me
To be hurt
To feel lost
To be left out in the dark
To be kicked when you’re down
To feel like you’ve been pushed around
To be on the edge of breaking down
And no one’s there to save you
No you don’t know what it’s like
Welcome to my life
Do you wanna be somebody else?
Are you sick of feeling so left out?
Are you desperate to find something more?
Before your life is over
Are you stuck inside a world you hate?
Are you sick of everyone around?
With their big fake smiles and stupid lies
While deep inside you’re bleeding
No you don’t know what it’s like
When nothing feels all right
You don’t know what it’s like
To be like me
To be hurt
To feel lost
To be left out in the dark
To be kicked when you’re down
To feel like you’ve been pushed around
To be on the edge of breaking down
And no one’s there to save you
No you don’t know what it’s like
Welcome to my life
No one ever lied straight to your face
And no one ever stabbed you in the back
You might think I’m happy but I’m not gonna be okay
Everybody always gave you what you wanted
You never had to work it was always there
You don’t know what it’s like, what it’s like
To be hurt
To feel lost
To be left out in the dark
To be kicked when you’re down
To feel like you’ve been pushed around
To be on the edge of breaking down
And no one’s there to save you
No you don’t know what it’s like (what it’s like)
To be hurt
To feel lost
To be left out in the dark
To be kicked when you’re down
To feel like you’ve been pushed around
To be on the edge of breaking down
And no one’s there to save you
No you don’t know what it’s like
Welcome to my life
Welcome to my life
Welcome to my life

Lyricnya nyinggung gue T_T

Berhenti Berharap

Aku tak percaya lagi dengan apa yang kau beri
Aku terdampar disini tersudut menunggu mati
Aku tak percaya lagi akan guna matahari
Yang dulu mampu terangi sudut gelap hati ini
Aku berhenti berharap
Dan menunggu datang gelap
Sampai nanti suatu saat tak ada cinta kudapat
Kenapa ada derita bila bahagia tercipta
Kenapa ada sang hitam bila putih menyenangkan????

Aku terdampar disini tersudut menunggu mati......
Ha... Ha... Ha...

Minggu, 13 Mei 2012

Titisan keyboard pertama yang gue posting di blog


ABANG YANG JOROK BAIK !

                Gue geleng-geleng kepala saat melihat meja belajar gue yang tampak seperti kapal pecah, berbeda 180 derajat dari meja belajar yang ada di sudut kamar lainnya. Yang bersih nan rapih itu punya adik gue, Miki.
                Kamar ini bagai sebuah taman yang indah dan bersih namun harus menyatu dengan TPA (Tempat Pembuangan Akhir). Wilayah milik Miki tertata rapih dan bersih sedangkan gue jangan ditanya lagi. Miki sudah berulangkali merengek ingin punya kamar sendiri karena udah gak tahan sekamar sama gue. Tapi  apa boleh buat di rumah hanya ada tiga kamar. Satu punya ortu, satu lagi punya nenek, dan yang terakhir punya gue dan Miki.
                “Aw…” Gue meringis saat sebuah kaos kaki butek mendarat di wajah gue. Pasti ini ulah si Miki.
                “Woi yang sopan dong lo, gue ini abang lo.” Seru gue.
                “Nih liat! Ini gara-gara lo yang buang permen karet sembarangan. Jorok banget sih lo.” Kata Miki sambil membersihkan kakinya yang menginjak bekas permen karet gue.
                “Jorokan juga elu, kaos kaki lo bau tikus mati!”
                “ITU KAOS KAKI LO SENDIRI DAFFI !!” Teriak Miki.
                Gue mengangkat kaos kaki itu tepat di depan muka. Ternyata Miki benar itu kaos kaki gue sendiri. Hehehe… Maaf, Mik, gue khilaf.
***
                “Anak-anak berhubung guru-guru akan rapat. Jadi, setelah pelajaran bapak selesai kalian boleh pulang.”
                Ucapan Pak Bambang barusan langsung disambut gembira oleh seisi kelas gue. Kami akan terbebas dari dua pelajaran yang sumpah gak asik banget: Matematika dan Fisika.
                “Main PS di rumah gue yuk!” Kata Dira saat Pak Bambang sudah meninggalkan kelas.
                “Gue ikutan.” Sahut gue.
                “Gue juga.” Kata Mosa.
                “Yep gue juga mau.” Tambah Jeje.
                “Elo, Dit? Tanya Dira.
                “Gue ke sekolah adek gue dulu, nganter bukunya yang ketinggalan. Ntar gue nyusul kok.” Jawab Radit.
                “Kok lo mau-mau aja disuruh sama adek lo, kan salah sendiri lupa bawa buku.” Kata Jeje
                Radit tersenyum simpul  “Kata adek gue gurunya galak. Gue kasian kalo dia harus dihukum.”
                Jleb! Dalam banget kata-kata Radit. Gue jadi minder sama dia. Radit care banget sama adeknya, sedangkan gue?  Bisanya cuma ngeselin doang.
                “Kalo gitu lo ntar nyusul ya!” Ujar Dira.
                Radith mengangguk
                You’re my inspiring, Dith. Gue akan jadi abang yang baik juga buat Miki. Lo bisa, kenapa gue nggak? Kerenan jug ague, Daffi Vhalega. Hehehe.
***
                Pulang dari rumah Dira, gue termenung dalam kamar, kira-kira apa ya langkah pertama yang gue lakuin biar Miki terenyuh?
                Apa gue beresin wilayah kamarnya aja? Wait, what did I said? So, stupid. Mending gue beresin puny ague dulu. Abis itu kalo Miki udah pulang, gue buatin cokelat panas, minuman kesukaan dia. Now, you’re genius, Daffi.
                Selang beberapa lama kemudian, Miki pulang dengan tampang masam, ditekuk sana-sini. Ada apa gerangankah dengan adek gue ini?
                “Jangan tanya, gue capek.” Kata Miki melihat gelagat gue yang akan bertanya.
                Tunggu tampangnya dia cerah dulu baru gue bersikap manis, ntar yang ada dia ngamuk.
                Awan hitam, cuaca mendung, dan aura bete baru hilang dari muka Miki tiga jam kemudian setelah ia tidur dan mandi.
                “Daf, makan malam yuk. Gue udah buat omelet.” Ujar Miki.
                Gue langsung menaruh komik one piece yang sejak tadi gue tekuni. Miki emang TOP, bisa masak. Jadi, disaat yang bersisa di rumah hanya gue dan dia, gue gak perlu khawatir kelaparan seperti saat ini.
                “Owmeletnyua uenuak, Mik.” Kat ague sambil melahap masakan Mii. Gak kalah sama buatan nyokap.
                “Iyalah gue gitu loh.”
                Tadi pagi mama papa sama nenek ke luar kota untuk menghadiri pernikahan sepupu gue. Makanya di rumah hanya ad ague dan adek gue. Apa? Adek? Mampus gue lupa.
                Gue berhenti makan “Mik, ini gak bener!”
                “Apanya yang gak bener?”
                “Lo dan gue. Kenapa lo yang masak harusnya gue!”
                “Jadi, ini salah gue, gitu?”
                “Lima puluh, lima puluh. Bagi rata.”
                “Stupid lo, Bang.”
                Setelah makan malam, Miki nongkrong di meja belajarnya, dia mulai mengerjakan PR. Contoh pelajar yang baik.
                “Nih, gue  buatin coklat panas buat adek gue yang rajin.” Kat ague sambil meletakkan se-mug cokelat panas di depannya.
                Miki memandang gue dengan kening berkerut.
                “Lo kesambet malaikat, Bang?”
                Gue Cuma nyengir lebar.
                “PR apa?” Tanya gue.
                “Fisika.”
                Waw…
                “Materinya?”
                “Kemagnetan.”
                Waw kuadrat…
                Sebelum bertanya lagi, gue berdo’a dalam hati semoga jawabannya ‘nggak’.
                “Ada yang sulit? Pengen dibantuin?” Tanya gue sok cool.
                “Emang lo bisa? Gue yakin lo udah gak ingat. Inikan pelajaran lo dua tahun lalu.”
                Kalo gak mau dibantuin bilang aja nggak. Gak usah pake ngatain juga kali. Semprul lo!
                “mending lo ngerjain tugas lo sendiri deh, Bang!”
                Iya ya, gue kan juga punya PR. Tapi lanjut baca komik dulu aja deh, tanggung soalnya.
                Saat Miki sudah menutup buku-buku pelajarannya, gue malah sebaliknya, baru buka buku, itupun dengan ogah-ogahan, contoh kebanyakan pelajar masa kini. Yang menjadikan belajar itu sebagai suatu keterpaksaan bukan kebutuhan apalagi hobi.
                Banyak guru bilang ngerjain soal dari yang mudah dulu, dan sekarang gue coba praktekin. Menelaah soal, nomor demi nomor tapi gue sama sekali gak nemuin soal yang mudah menurut otak gue. Ini nih akibat gak nyatet catatan yang dikasih sensei.
                “PR apa sih, bang? Muka lo kok jelek amat?” Tanya Miki sambil menghampiri gue.
                “Bahasa Jepang.” Jawab gue.
                “Coba gue liat.” Miki mengamati PR gue.
                “Yaelah, bang gimana mau kuliah di Jepang lo, ginian aja gak bisa.” Cibirnya.
                “Emang lo bisa?”
                “Bisalah. Orang gue belajar di sekolah plus les juga.”
                “Cara jawabnya gini, bang, menonton film dengan keluarga, pola kalimatnya itu orangnya dulu berarti keluarga dulu terus tambah partikel ‘to’ abis itu lo masukin kata kerjanya.” Jelas Miki.
                Gue tersenyum lebar “Jadi bahasa Jepangnya menonton film dengan keluarga adalah kazoku to eigako wo mimasu, iya kan?”
                Miki mengangguk “Yap, betul sekali.”
                “Lo emang pinter, Mik. Thanks ya!”
                Hah???
                KOK MALAH GUE SIH YANG DIAJARIN?!
                “Miki lo adek yang sotoy, songong, belaguuu…” Teriak gue kesal.
                Miki tertawa kecil “Terima kenyataan aja deh, Bang.”
                Jangan puas dulu lo, Mik. Gue bakal berubah. Dan gue yakin suatu hari nanti lo butuh bantuan gue, ABANG lo.
***
                Beberapa hari belakangan ini gue perhatiin Miki jadi uring-uringan, entah ada pa gerangan dengan adek gue itu. Dari dulu dia emang jarang cerita masalahnya ke gue. Padahal kalo dia cerita gue bakal bantu nyari solusinya.
                “Daf, adek kamu kenapa? Jadi murung gitu.” Kata nenek ke gue. Ternyata bukan hanya gue yang m erasakan perubahan Miki.
                “Tau nek, Miki gak pernah cerita.”
                “Kamu udah pernah nanya?”
                Gue geleng kepala.
                “Kalo Miki udah pulang les bahasa Jepang kamu coba ngobrol sama dia, siapa tau Miki punya masalah.”
                “Sip, nek.”
                Sebagai cucu yang baik gue nurutin perintah nenek. Gue nunggu Miki pulang les sambil ngopi di teras rumah.
                “Hei, bro!” Kata gue saat Miki udah nongol di depan gerbang.
                “Hei…” Jawabnya alakadarnya.
                “Ada masalah, Mik? Mau cerita?” Tanya gue sambil ngekor di belakang Miki yang berjalan menuju kamar.
                “Nggak.”
                “Bohong lo.”
                “Kok lo jadi kayak nenek-nenek sih? Bawel amat.”
                “Wah parah lo, Mik. Gue bilangin nenek tau rasa lo.”
                “Bocah lo main lapor-lapor nenek.” Katanya sambil menghempaskan diri ke tempat tidur.
                “Cerita aja, dek. Abang pasti bantu.”
                “Geli gue dengernya.”
                 “Kalo gitu biar gue tebak apa problem lo. Duit jajan lo kurang? Lo habis ditolak cewek? Nilai lo jeblok? Ato lo lagi dikejar-kejar rentenir?” Tebak gue ngasal.
                “Kepo banget sih lo!”
                “Itu tandanya gue care sama lo.”
                “Whatever!!!” Kata Miki lalu keluar kamar sambil banting pintu. Darama abisss.
***
                “Ternyata lo gak bakat olahraga.” Kata gue saat mendapati Miki lagi main basket di halaman rumah. Haha gue dapet juga titik kelemahan lo.
                “Bukan urusan lo!” jawabnya ketus.
                Gue menghampiri Miki “ Itu jadi urusan gue juga , lo kan adek gue. Apa kata orang nanti kalo Daffi Vhalega, ketua tim basket SMU Zura punya adek yang gak bisa olahraga.”
                “Sombong banget.” Cibirnya.
                “Nih perhatiin cara yang bener.” Kat ague sambil bersiap-siap menembak bola ke dalam ring.
                “One point doang.” Cibir Miki. Lagi.
                Gue tertawa kecil “Gini lho adek gue yang gak ganteng-ganteng amat. Gue ngasih contoh dari jarak deket dulu, kalo lo udah bisa baru agak jauh. Step by step, bro.”
                Miki mengambil bola dari tangan gue dan menembaknya ke a rah ring, tapi tembakannya gak masuk, menyentuh ring pun nggak.
                “Gak usah buru-buru, kecepatan emang perlu tapi yang lebih penting lo harus fokus.” Jelas gue.
                Miki mengangguk lalu melempar bola ke ring lagi. Lumayan, meskipun gak masuk, tapi sempet nyentuh ring.
                “Coba lagi !”
                Miki mencoba berulang-ulang, keringatnya sudah membasahi bajunya tapi belum ada bola yang berhasil ia masukkan ke dalam ring.
                “DAMN!!!” Teriaknya sambil melempar bola ke tanah dengan kasar.
                “Segitu doang, Mik? Lo udah nyerah? Cemen banget.” Tanya gue sedikit kesal.
                “Iya gue emang cemen. Gue gak jago olahraga seperti lo. Puasss??” Jawab Miki dengan emosi.
                “Ini bukan Miki yang gue kenal, bukan adek gue yang selalu ‘lebih’ dari gue, selalu jadi contoh yang baik buat gue, Miki yang lebih dewasa dari abangnya.” Kata gue dengan emosi juga. Gue gak suka dengan Miki yang seperti ini.
                Miki selonjoran di atas lapangan basket mini yang dibuatin bokap “Gue juga punya kelemahan, bang!” katanya dengan suara yang udah tenang.
                “Kalo kelemahan itu bisa diilangin, why not?”
                Cukup lama Miki terdiam, entah apa yang ada dalam pikirannya. Gue seakan gak ada dihadapannya, cuap-cuapan gue juga gak  di respon. Autisnya lagi kambuh mungkin.
                “Mau usaha lagi gak?” teriak gue tepat di telinganya.
                “Ya, demi Airha dan nilai olahraga gue!” Teriak Miki semangat
                Gue memandang Miki dengan menyipitkan mata “Airha?”
                Miki melempar bola ke ring tanpa menjawab pertanyaaan gue. Dan… tembakannya berhasil.  Miki langsung loncat-loncat kegirangan, gue cuma nyengir lebar ngeliatnya. Siapapun Airha itu, dia berhasil jadi motivator adek gue.
***
                “Thanks…” Kata Miki yang muncul tiba-tiba disamping gue saat gue ngadem di balkon.
                “What for?”
                “Yang tadi sore. Berkat lo gue gak jadi dapet telor bebek di ujian praktek besok.”
                Gue tertawa kecil “Berkat gue ato Airha?”
                Muka Miki langsung bersemu merah “Ah ..eh.. eh.. berkat lo dong. Lo kan yang udah ngajarin gue. Lo keren, bang!”
                Apa ini tanda-tanda engkau akan mengambilnya, Tuhan? Kok kutu kupret ini jadi manis banget? Gue dibilang keren lagi.
                “Santai aja lagi, Mik. Kalo lo ketemu kakek salam dari gue yah!”
                Miki langsung noyor kepala gue “Eh kampret kakek udah meninggal. Lu kate gue mo meninggal juga?!”
                Hening…
                “Bang?”
                “Hm…”
                “Thanks..”
                Gue mengernyitkan kening gak ngerti “Lagi? Untuk apa?”
                “Semuanya”
                “Coba lo sebutin gue gak ngerti.”
                “Otaknya di dengkul sih. Lo mungkin gak sadar bang, lo udah jadi abang yang baik buat gue.”
                Emang iya? Kok gue gak tau?
                “Lo selalu ngalah sama gue. Contohnya, waktu sepeda gue rusak, lo minjemin sepeda lo ke gue. Padahal gue tau lo kemana-mana pake sepeda, meski lo udah dikasi motor sama bokap. Waktu lo menang  lomba basket, nyokap ngasih hadiah jaket tapi apa yang lo bilang waktu itu? Lo bilang ini buat Miki aja deh, dia kan suka warna merah. Dan masih banyak lagi yang udah lo lakuin buat gue. Tapi gue gak mau sebutin lagi takut pala lo meledak saking girangnya.”
                Gue minjemin sepeda ke Miki karena menurut gue dia lebih butuh, terus masalah jaket itu gue kasih buat dia bukan karena gue ngalah tapi apa ya? Mh.. gue suka aja ngeliat kalo dia seneng. Dan gue gak pernah ngerasa kalo itu adalah sebuah pengorabanan dari seorang kakak.
                “Kok gue gak ngerasa ya,Mik? Malah gue pikir gue gak pernah berbuat baek ke elo.”
                “Itu dia bang jeleknya lo. Saking baiknya lo sampe sampe lo terus berpikir kalo lo gak pernah berbuat baik. Yang ada dalam pikiran lo, kalo lo itu jorok, males, dan gak lebih baik dari gue.”
                Gue nyengir lebar. Gue jadi plong denger ucapan Miki barusan. Ternyata apa yang gue pikir tentang diri gue ternyata salah. Kalo masalah jorok itu sih gue akui.
                “Jadi gue abang yang baik nih?” tanya gue menggoda Miki.
                “Jorok sih iya.”
                Gue terdiam, begitu juga dengan Miki. Barusan ada bintang jatuh, dari kecil kami berdua sering ngucapin harapan kita dalam hati kalo ngeliat ada bintang jatuh.
                “Tapi lo baik kok bang. Kalo lo jahat, lo bukan disini tapi di penjara.” Kata Miki memecah keheningan.
                Malam ini gue dapet satu pelajaran berharga yaitu, Carry out a random act of kindness, with no expectation of reward, safe in the knowledge that one day someone might do the same for you.
THE TAMAT

Minggu, 06 Mei 2012

Reunian coy!

Di postingan kali ini gue mo cerita tentang temen-temen SMP gue. Kalo boleh jujur nih ya, temen-temen SMP gue lebih asik dari temen SMA. Emang sih mereka gak sepinter temen-temen gue sekarang tapi mereka lebih tahu gimana cara ngebuat suasana jadi lebih seru dan gak mati gaya.
Kelas gue dulu emang sering kena marah guru, sering ribut sama kelas lain, nilai kami juga gak tinggi-tinggi amat. Tapi itu semua yang membuatnya lebih berwarna. Di kelas gue dulu gak ada yang namanya negara dalam negara semuanya bercampur menjadi satu. Gak ada yang lebih dominan dan gak ada yang jadi anak bawang, baik laki-laki ataupun perempuan.Hm... dan yang paling penting kalo diantara kita ada yang ribut gak ada satupun yang bakal negur dan marah-marah, kita semua bergabung dalam keributan itu. Meski ada yang merasa terganggu tapi dia tidak ambil pusing dan memarahi teman yang sedang ribut. Berbeda dengan kelas gue yang sekarang. So, freak! Ada atau tidak adanya gue sama saja. So bored!
Awal-awal masuk SMA gue seperti mayat idup di kelas, gue gak suka banget banget sama sikon kelas gue. Kebayang gak sih dari kelas yang rame ke yang mati itu gimana rasanya? Serasa mau ilang aja gue dari kelas itu. Ada juga bagian kelas yang idup sih tapi hanya segelintir dan gak bercampur menjadi sebuah kesatuan tawa dan keseruan, yang seru mereka-mereka aja.
Kenapa kelas gue yang sekarang tidak bisa se-asik yang dulu?. Gue ralat, mungkin bukan tidak bisa tapi belum bisa. Dulu, kalo diantara temen gue ada yang murung ato diem pasti yang lain pada sibuk nyari tahu kenpa si doi diam atau mencoba mengajaknya bicara biar terhibur. Tapi sekarang? siapa lo siapa gue?! Oh ya yang paling serunya lagi kita sekelas sering jalan bareng, gak ada yang namanya lebih asik di rumah. Lah kalo sekarang? boro-boro, ngerayain ultah wali kelas aja hanya segelintir aja yang berpartisipasi. Yang lainnya kemana? GAK TAUUU! KE LAUT MUNGKIN! *sori gue kelepasan emosi
Gue berharap temen-temen gue yang males ikutan happy-happy-an bisa cepet dapet ilham/pencerahan buat ngewarnai masa remajanya. AMIIINN....
Reuni baru-baru ini bareng temen SMP serruuuuu banget meski hujan tapi yang msih tinggal di kota ini nyempatin diri buat datang. Sumpah gue bener-bener nikmatin tiap detik bareng mereka. Apalagi pas kita ujan-ujanan naik motor nyari tempat makan. Gokil deh, kayak kambing baru lepas dari kandangnya. Guys, you're my treasure of valuable in my life :)










Selamanya dalam ingatan yah :)